Barusan melihat acara TVONE setiap hari Rabu jam 19.30 Debat Terbuka. Hari ini membahas tentang polemik film Perempuan Berkalung Sorban. Dasar gelo mana ada sorban dibuat kalung. Menanggapi polemik apakah film ini menghina Islam atau tidak sebenarnya mudah saja. Ada beberapa hal yang dapat kita jadikan renungan.
1.Menurut salah satu artikel di eramuslim, film ini diangkat dari novel dengan judul yang sama. Novel ini diterbitkan dengan dukungan 'dana' dari Ford Fondation yang dalam kegiatannya tidak mungkin memperjuangkan dakwah Islam, setidaknya menghormati da.
2.Pengarang buku inipun memiliki hubungan dengan ICIP. Bila kita lihat di website ICIP, maka akan kita temui banyak nama yang merupakan tokoh liberal dan pembuat polemik di lingkungan umat Islam. Maka tidak aneh bila dalam debat tersebut salah satu aktifis perempuan dengan jilbab 'jadul'nya menjadi pembela hanung. Maka tanpa perlu membaca bukunya pun orang yang pintar bisa menebak kemana arah buku ini akan memperolok- olok Islam dan keindahan Islam pun diobok- obok dengan pikiran kotornya.
3.Kembali ke film ini. Saya merasa, hanung menjadi besar kepala setelah merasa sukses membuat film yang sebagian besar orang menyebutnya dengan film religi yaitu Ayat- Ayat Cinta. dia merasa sudah dalam taraf orang yang memiliki keilmuan untuk menginterpretasikan syariah Islam. Maka dalam debat tersebut dengan pongahnya dia mempersembahkan film Perempuan Berkalung sorban ini untuk menjadi pelajaran bagi Umat Islam terutama para wanita muslim. Logika sederhananya, bagaimana mungkin makanan yang lezat dapat disajikan dari bahan baku dan bumbu- bumbu yang basi dan diperoleh dari comberan. Maka mana mungkin film ini dapat memberikan hikmah bagi masyarakat bila novel yang menjadi inspirasinya dikarang oleh orang yang minder dengan kemuliaan Islam. Mana mungkin film ini menjadi kebanggaan umat bila sutradaranya dengan keras kepala menggambarkan kekerasan yang terjadi dalam pesantren sebagai kebenaran dan realita. Padahal banyak film dibuat hanya sebagai imaginasi dari pembuatanya. Maka sebenarnya sebagai seorang Muslim, patut kita pertanyakan dimanakah hati nurani seorang hanung yang dengan tega- teganya membuat film seperti itu. Yang bahkan seorang KAFIR pun tidak akan berani membuat film seperti ini di INDONESIA.
4.Mudah- mudahan Hanung mendapatkan hidayah dan segera mengakui kepongahannya dan bertobat. Karena sekeras apa pun keegoisan seseorang terhadap kepandirannya, sesungguhnya fitrah manusia itu tidak akan padam. Walaupun hanya setitik cahaya dalam kegelapan hati, mudah- mudahan segera menunjukan pancarannya.
Wednesday, February 11, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 komentar:
Post a Comment